Semester genap 2008/2009....
Setelah kuliah selama kurang lebih 2 bulan, sekarang UTS sudah ada di depan mata.
Entah kenapa rasanya kok ngga ada deg-degan-nya sama sekali menjelang UTS ini. Mungkin sudah saking terbiasa merasakan sensasi menjelang UTS dari semester ke semester, sekarang rasanya tidak terlalu menegangkan lagi. (sombongnya.....^^)
Tapi, saya sadar betul bahwa semester ini ada tugas lain yang perlu saya emban, karena semester ini untuk pertama kalinya saya mengasisteni mata kuliah yang ada UTS-nya...! WAAA...!
Mata kuliah Statistik 2 dan Psikometri... Kuliahnya saja nampaknya sudah membuat para mahasiswa bercucuran keringat... Nah, bagaimana dengan UTS-nya?
Sebelum mahasiswa bercucuran keringat, duet (maut) dosen Statistik dan Psikometri sudah lebih dulu merasakan cucuran keringat. Maklum lah, hari libur nasional yang pada dasarnya sangat membahagikan itu membuat hari aktif kuliah berkurang karena muncul di hari Sabtu. Akibatnya, mereka harus mengejar ketinggalan materi yang akan masuk dalam soal-soal UTS.
Mungkin tulisan saya ini akan mengingatkan para mahasiswa Psikometri dengan perjalanan panjang bersama excel dan rumus-rumusnya saat mempelajari teknik analisis item.
(Terharu ngga sih saat Mba Agatha, Reggie, Fefe, dan Uwie mondar-mandir untuk mengecek apakah kalian sudah bisa memasukan rumus dengan benar...? =p)
Atau para mahasiswa Statistik 2 yang menghabiskan waktu hingga jam 4 sore untuk memahami betul apa itu T-test for 2 related samples + Estimasi.
(Masih inget donk Uwie harus mengemban tugas mengajarkan kalian estimasi??)
Jadi, merasa kelas di hari Sabtu terakhir sebelum UTS sebagai hari yang berat?
Ya, sangat bisa dimaklumi kok! :D
Lepas dari kelas di hari Sabtu, sudah sangat bisa dipastikan bahwa kedua kelas, baik Psikometri maupun Statistik 2 sama-sama masih membutuhkan kelas tambahan sebelum ujian berlangsung di awal minggu depan.
Ibaratnya, para dosen, asisten, dan mahasiswa sendiri meyakini bahwa masih perlu diadakan recharge energi terakhir sebelum para mahasiswa dilepas untuk bertempur di ruang ujian (*halaaah*).
Hari Senin pun dipilih untuk kelas tambahan Statistik 2. Bahasannya? ANOVA. Dalam waktu singkat, Bapak Riza Karim (ada yang ngga kenal? =p) menjelaskan ANOVA alias Analysis of Variance One Way, mulai dari prinsip dasar yang membedakannya dengan kerabatnya (t-test), hingga cara melakukan perhitungan ANOVA dengan bantuan tabel yang singkat jelas padat itu... (belum lupa kan, teman-teman??)
Para asisten pun kebagian jatah mengajar pada kesempatan kali ini. Karena yang luar biasa rumit sudah diajarkan oleh Sang Dosen, maka saya dan Vivi kebagian mengajar bagian kecil namun tidak kalah pentingnya dalam ANOVA, yaitu Post-Hoc Test.
Keluar kan di ujian? Makanya, berbahagialah kalian yang menyimak penjelasan kami dengan baik.... :D
(btw, saya lumayan deg-deg-an lho... wong waktu itu baru pertama kalinya ngajar sambil disaksikan duet (maut =p) dosen!)
Selesai berjuang untuk mahasiswa Statistik 2, besoknya kelas tambahan Psikometri pun gantian diadakan. Kelas C601 yang cuma seuprit itu dipakai untuk menampung para mahasiswa Psikometri Seksi D dan beberapa teman dari seksi lain yang minta izin untuk ikut karena ingin menambah ilmunya. Walaupun beberapa mahasiswa sampai duduk di lantai karena tidak kebagian kursi, semangat bertanya dan "mengobrol" tampak tetap menyala di kelas saat itu....
Durasi kelas yang cukup singkat itu dipakai untuk menjelaskan cara perhitungan analisis item secara manual.
Fefe tampak sibuk menjelaskan cara menghitung di papan tulis, sementara Reggie mendadak sibuk bak penjual kalkulator karena hampir semua mahasiswa menanyakan cara menggunakan rumus-rumus dasar statistik dengan kalkulator mereka yang beraneka ragam itu... (cieeee reggieee... =p)
Saya pun tergelitik saat melihat teman-teman yang baru gelagapan saat berada di kelas karena tidak tahu cara menghitung standard deviasi dengan kalkulatornya. Tak apa... Masih belum terlambat kok... Bayangkan kalau mereka baru gelagapan saat berhadapan dengan soal UTS...! Hehehe...
Kelas tambahan Statistik 2 dan Psikometri ini tampaknya memang membantu para mahasiswa menghadapi ujiannya.
Pernyataan-pernyataan yang keluar dari mulut mereka bisa membuktikan hal tersebut.
"Aduh, untung aja ikut kelas tambahan! Kalo ngga, pasti ga bisa ngerjain essay-nya"
atau
"Yaaah, tau gitu gw ikut kelas tambahannya deh... Gw ngga ngerti cara ngerjain soal yang SPSS tadi..."
Setelah hari ujian kedua mata kuliah itu berlalu, dua dosen dan segambreng asistennya, termasuk saya, mulai bisa bernapas lega (tentunya bersamaan dengan para mahasiswa yang juga sudah bisa bernapas lega... Eh, emangnya udah lega ya sebelom tau nilainya?? :D).
Sebenernya sih kami juga ngga lega-lega amat kok, karena kami juga penasaran sama nilai kalian... Hehehe...
Baiklah... UTS-nya sekarang sudah berlalu, tetapi kenangan deg-deg-an karena takut tidak sempat menyampaikan seluruh materi UTS kepada kalian tidak akan mudah hilang lho dari benak kami...
Uniknya, pada pengalaman kali ini, saya salut luar biasa dengan kalian yang keluar dari ruang ujian dengan bibir tersenyum (mungkin setengah pasrah) dan berkata,
"Lumayan lah... Waktunya aja tu agak mepet, kalo ngerjainnya ngga tenang, salah itung gawat deh...!".
Saya pun teringat kata-kata Bapak Riza Karim (masih ada yang ngerasa ngga kenal?? =p) saat mengajar di kelas tambahan Statistik 2.
Intinya adalah tidak perlu panik saat melihat soal yang mungkin akan penuh dengan angka-angka. Baca saja soalnya, lalu kerjakan dengan TENANG.
Saya sempat membayangkan saat saya menjadi mahasiswa Statistik 2 atau Psikometri, sepertinya saya tidak bisa merasa tenang saat menghadapi soal penuh angka-angka di hadapan saya saat ujian. Jadi, bagi saya saat di kelas itu, kata-kata Sang Dosen hanya dapat menjadi peringatan sekaligus nasehat yang berlalu begitu saja.
Tapi, curhatan singkat dari para mahasiswa yang sudah berhasil menerapkan nasehat tersebut membuat saya tersadar bahwa memang tidak ada untungnya merasa panik saat ujian. Yang ada malah salah itung, salah jawab, salah dehhhh! (seperti yang bukan baru sekali-dua kali saya alami... XD)
Seketika itu pula, saya bertanya dalam hati, berapa banyak mahasiswa yang mengingat nasehat itu saat berada di ruang ujian ya? (Ada yang mau dan bisa menjawab?).
Bagi yang sudah melakukan, lakukan terus setiap kali sedang menghadapi ujian ya...
(btw, mau donk minta diajarin juga caranya... Saya belum bisa tenang nih... :D)
Bagi yang belum (seperti saya), 'yukk kita sama-sama belajar ngga panikan waktu mengisi soal ujian. Jadi, kemungkinan salah ngitung dan salah isi gara-gara ngga bisa berpikir jernih bisa diminimalisir... =)
Saya menceritakan pengalaman UTS saya kepada kakak-kakak saya yang sudah lulus kuliah. Kami terlibat percakapan singkat yang cukup seru.
Sambil sedikit menyombongkan diri karena sudah tidak menghadapi UTS lagi, pada akhir pembicaraan, mereka mengatakan sesuatu yang sempat membuat saya tercengang.
"Hahaha, UTS? Apaan tuh? Udah lama ngga denger... Kalo ga salah kepanjangannya : Udaaah, TENANG Sajaaah!..."
Saya pun hanya bisa tertawa...
(agak miris karena bingung... Kok si "TENANG" nge-trend amat ya?)
Yaaa, mungkin memang benar ya, demi hasil yang baik dan (lagi-lagi) untuk menghindari kesalahan hitung dan kesalahan jawab karena panik, belajar mengisi soal ujian dengan tenang perlu banget untuk dilakukan...!
2 comments:
makasih ya buat para asdosers atas bantuan dan dukungannya secara lahir batin maupun moriil *aneh bgt ya bahasa gue??
jadii..gimana nih hasil utsnya??
hehehehehe..
retha : iyaa..ngapaen si panigan?? mending stay cool aje kayak guee..hahaha
Sabar ya, erikaa... Harus TENANG juga menunggu hasil UTS...
Sip deh, nanti saia belajar caranya stay cool... :D
Post a Comment