BACK TO PSYCHOLOGY WORLD!
4 April 2009..
Ya, itu adalah tanggal yang tertera di kalender akademik yang menunjukkan masa UTS sudah berakhir, maka perkuliahan seperti biasa akan dimulai kembali. Artinya, Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta akan kembali ramai dengan aktivitas para penghuni didalamnya..
Dan entah mengapa, Fakultas Psikologi sangat terkenal dengan ke-hectic-an mahasiswa/i nya. Bukan karena jadwal kuliah yang sangat padat, tetapi tidak lain karena TUGAS YANG SANGAT PADAT!
Masih teringat ketika salah satu teman bertanya pada saya “ Vi, apa sih yang dikerjain sama anak-anak Psikologi di hall C, kok kayaknya betah banget disana? “. tentu saja karena semua mahasiswa/i lain bisa melihat kesetiaan mahasiswa/i Psikologi pada hall C, mengerjakan tugas mulai dari Atma Jaya baru saja dibuka gerbangnya sampai diusir satpam karena sudah akan ditutup *curcol*
Dan pertanyaan ini sudah beribu-ribu kali (sedikit berlebihan ya?) saya dengar selama hampir 3 tahun kuliah di Fakultas Psikologi UAJ. Ini juga sering sekali menjadi bahan obrolan antar sesama mahasiswa/i Psikologi UAJ yang ternyata mendapat pengalaman yang sama dengan saya bahkan hal ini diungkapkan dan diakui oleh mahasiswa/i dari Universitas lain.*wow*
Yahhh, itulah Psikologi.. Beberapa senior menggunakan istilah lingkaran setan untuk tugas-tugas yang didapatkan di Psikologi, karena tidak ada henti-hentinya terputus (Setuju dengan para senior itu dan saya? Hehe..). Tapiiii, walaupun demikian, tidak sedikit bahkan sangat banyak yang memuji dan membanggakan lulusan Fakultas Psikologi Atmajaya. Bukan karena hal lain, tapi lulusan Psikologi UAJ sudah terkenal “tahan banting” dengan tugas (tentu saja donk!), siap bekerja keras, ditambah dengan ilmu yang sangat TOP, jadi tidak salah jika lulusan Psikologi Atmajaya menjadi prioritas yang telah terpercaya.
Prosesnya memang tidak gampang. Kuliah juga terkadang sangat membosankan. Bosan dengan tugas. Bosan dengan rutinitas. Males kuliah. Kata-kata ini, sering menjadi status Facebook, Friendster, Plurk, Twitter, YM, MSN, blog, atau media lain dimana perasaan-perasaan bisa diungkapkan. Dan saya juga melakukannya!
Perasaan itu benar-benar hadir. Saya ingin teriak dan mengatakan kepada semua petinggi Atmajaya, apakah tidak boleh ada libur tambahan?? Saya tidak sanggup lagi. Terkadang saya merasa stres karena saya bertanya “mengapa saya semalas ini? Mengapa saya sebosan ini?”.
Tapi percaya atau tidak, semua juga merasakan hal yang sama. Dari mahasiswa angkatan 2008 yang mungkin sedang terkaget-kaget karena tugas di Psikologi sangat banyak sampai angkatan 2005++ yang mungkin sedang sibuk dengan seminar atau skripsi. Tapi bagaimana tiap orang mengatasi perasaan bosan itu juga berbeda-beda. Jika saya memilih menyingkir dari yang namanya materi kuliah sejak mata kuliah terakhir yang diujiankan, mungkin teman-teman yang lain melakukan hal lain. Atau mungkin ada yang memilih untuk menyicil materi baru dan tetap belajar untuk mengurangi tumpukan stres di kemudian hari ( saya sarankan jika anda sanggup silahkan pilih ini daripada meniru cara saya. Hehehe.. ).
Selain cara yang sudah kita pilih itu, saya memilih cara yang menurut saya cukup ampuh yaitu menyakinkan diri bahwa saya bisa melewati semuanya dengan baik, bahwa SAYA BISA! Bahkan salah satu rekan saya memanggil saya dengan sebutan “MISS I CAN DO IT” karena sering kali menyebutkan kata-kata itu, but i think it works for me!
Dan sekarang bagi teman-teman yang sedang merasa kan hal yang sama dengan status saya di YM yaitu : “BESOK AKTIVITAS NORMAL LAGII.MASIH MALESS!” ,saya hanya bisa mengatakan mari ber-SEMANGATTT! WE CAN DO IT!!Kuliah menyenangkan kok, bisa bertemu dengan teman-teman seperjuangan lagi, mengobservasi berbagai ekspresi manusia-manusia hall C. Hehehe..
Jadi mari hadapi datangnya rutinitas mahasiswa/i Psikologi Atma Jaya dengan SENYUM LEBAR =)
Cheer up guys!
_Vivi Julietta_
BACK TO THE PSYCHOLOGY WORLD!
Posted by celotehan vivi at 11:03 PM Labels: Psikometri, PWD 203, PWD 222, Statistik Sunday, May 3, 2009UTS (Udaaah, Tenang Sajaaah!) ^^
Posted by Thatung at 10:07 PM Labels: Psikometri, PWD 203, PWD 222, Statistik Tuesday, April 28, 2009Semester genap 2008/2009....
Setelah kuliah selama kurang lebih 2 bulan, sekarang UTS sudah ada di depan mata.
Entah kenapa rasanya kok ngga ada deg-degan-nya sama sekali menjelang UTS ini. Mungkin sudah saking terbiasa merasakan sensasi menjelang UTS dari semester ke semester, sekarang rasanya tidak terlalu menegangkan lagi. (sombongnya.....^^)
Tapi, saya sadar betul bahwa semester ini ada tugas lain yang perlu saya emban, karena semester ini untuk pertama kalinya saya mengasisteni mata kuliah yang ada UTS-nya...! WAAA...!
Mata kuliah Statistik 2 dan Psikometri... Kuliahnya saja nampaknya sudah membuat para mahasiswa bercucuran keringat... Nah, bagaimana dengan UTS-nya?
Sebelum mahasiswa bercucuran keringat, duet (maut) dosen Statistik dan Psikometri sudah lebih dulu merasakan cucuran keringat. Maklum lah, hari libur nasional yang pada dasarnya sangat membahagikan itu membuat hari aktif kuliah berkurang karena muncul di hari Sabtu. Akibatnya, mereka harus mengejar ketinggalan materi yang akan masuk dalam soal-soal UTS.
Mungkin tulisan saya ini akan mengingatkan para mahasiswa Psikometri dengan perjalanan panjang bersama excel dan rumus-rumusnya saat mempelajari teknik analisis item.
(Terharu ngga sih saat Mba Agatha, Reggie, Fefe, dan Uwie mondar-mandir untuk mengecek apakah kalian sudah bisa memasukan rumus dengan benar...? =p)
Atau para mahasiswa Statistik 2 yang menghabiskan waktu hingga jam 4 sore untuk memahami betul apa itu T-test for 2 related samples + Estimasi.
(Masih inget donk Uwie harus mengemban tugas mengajarkan kalian estimasi??)
Jadi, merasa kelas di hari Sabtu terakhir sebelum UTS sebagai hari yang berat?
Ya, sangat bisa dimaklumi kok! :D
Lepas dari kelas di hari Sabtu, sudah sangat bisa dipastikan bahwa kedua kelas, baik Psikometri maupun Statistik 2 sama-sama masih membutuhkan kelas tambahan sebelum ujian berlangsung di awal minggu depan.
Ibaratnya, para dosen, asisten, dan mahasiswa sendiri meyakini bahwa masih perlu diadakan recharge energi terakhir sebelum para mahasiswa dilepas untuk bertempur di ruang ujian (*halaaah*).
Hari Senin pun dipilih untuk kelas tambahan Statistik 2. Bahasannya? ANOVA. Dalam waktu singkat, Bapak Riza Karim (ada yang ngga kenal? =p) menjelaskan ANOVA alias Analysis of Variance One Way, mulai dari prinsip dasar yang membedakannya dengan kerabatnya (t-test), hingga cara melakukan perhitungan ANOVA dengan bantuan tabel yang singkat jelas padat itu... (belum lupa kan, teman-teman??)
Para asisten pun kebagian jatah mengajar pada kesempatan kali ini. Karena yang luar biasa rumit sudah diajarkan oleh Sang Dosen, maka saya dan Vivi kebagian mengajar bagian kecil namun tidak kalah pentingnya dalam ANOVA, yaitu Post-Hoc Test.
Keluar kan di ujian? Makanya, berbahagialah kalian yang menyimak penjelasan kami dengan baik.... :D
(btw, saya lumayan deg-deg-an lho... wong waktu itu baru pertama kalinya ngajar sambil disaksikan duet (maut =p) dosen!)
Selesai berjuang untuk mahasiswa Statistik 2, besoknya kelas tambahan Psikometri pun gantian diadakan. Kelas C601 yang cuma seuprit itu dipakai untuk menampung para mahasiswa Psikometri Seksi D dan beberapa teman dari seksi lain yang minta izin untuk ikut karena ingin menambah ilmunya. Walaupun beberapa mahasiswa sampai duduk di lantai karena tidak kebagian kursi, semangat bertanya dan "mengobrol" tampak tetap menyala di kelas saat itu....
Durasi kelas yang cukup singkat itu dipakai untuk menjelaskan cara perhitungan analisis item secara manual.
Fefe tampak sibuk menjelaskan cara menghitung di papan tulis, sementara Reggie mendadak sibuk bak penjual kalkulator karena hampir semua mahasiswa menanyakan cara menggunakan rumus-rumus dasar statistik dengan kalkulator mereka yang beraneka ragam itu... (cieeee reggieee... =p)
Saya pun tergelitik saat melihat teman-teman yang baru gelagapan saat berada di kelas karena tidak tahu cara menghitung standard deviasi dengan kalkulatornya. Tak apa... Masih belum terlambat kok... Bayangkan kalau mereka baru gelagapan saat berhadapan dengan soal UTS...! Hehehe...
Kelas tambahan Statistik 2 dan Psikometri ini tampaknya memang membantu para mahasiswa menghadapi ujiannya.
Pernyataan-pernyataan yang keluar dari mulut mereka bisa membuktikan hal tersebut.
"Aduh, untung aja ikut kelas tambahan! Kalo ngga, pasti ga bisa ngerjain essay-nya"
atau
"Yaaah, tau gitu gw ikut kelas tambahannya deh... Gw ngga ngerti cara ngerjain soal yang SPSS tadi..."
Setelah hari ujian kedua mata kuliah itu berlalu, dua dosen dan segambreng asistennya, termasuk saya, mulai bisa bernapas lega (tentunya bersamaan dengan para mahasiswa yang juga sudah bisa bernapas lega... Eh, emangnya udah lega ya sebelom tau nilainya?? :D).
Sebenernya sih kami juga ngga lega-lega amat kok, karena kami juga penasaran sama nilai kalian... Hehehe...
Baiklah... UTS-nya sekarang sudah berlalu, tetapi kenangan deg-deg-an karena takut tidak sempat menyampaikan seluruh materi UTS kepada kalian tidak akan mudah hilang lho dari benak kami...
Uniknya, pada pengalaman kali ini, saya salut luar biasa dengan kalian yang keluar dari ruang ujian dengan bibir tersenyum (mungkin setengah pasrah) dan berkata,
"Lumayan lah... Waktunya aja tu agak mepet, kalo ngerjainnya ngga tenang, salah itung gawat deh...!".
Saya pun teringat kata-kata Bapak Riza Karim (masih ada yang ngerasa ngga kenal?? =p) saat mengajar di kelas tambahan Statistik 2.
Intinya adalah tidak perlu panik saat melihat soal yang mungkin akan penuh dengan angka-angka. Baca saja soalnya, lalu kerjakan dengan TENANG.
Saya sempat membayangkan saat saya menjadi mahasiswa Statistik 2 atau Psikometri, sepertinya saya tidak bisa merasa tenang saat menghadapi soal penuh angka-angka di hadapan saya saat ujian. Jadi, bagi saya saat di kelas itu, kata-kata Sang Dosen hanya dapat menjadi peringatan sekaligus nasehat yang berlalu begitu saja.
Tapi, curhatan singkat dari para mahasiswa yang sudah berhasil menerapkan nasehat tersebut membuat saya tersadar bahwa memang tidak ada untungnya merasa panik saat ujian. Yang ada malah salah itung, salah jawab, salah dehhhh! (seperti yang bukan baru sekali-dua kali saya alami... XD)
Seketika itu pula, saya bertanya dalam hati, berapa banyak mahasiswa yang mengingat nasehat itu saat berada di ruang ujian ya? (Ada yang mau dan bisa menjawab?).
Bagi yang sudah melakukan, lakukan terus setiap kali sedang menghadapi ujian ya...
(btw, mau donk minta diajarin juga caranya... Saya belum bisa tenang nih... :D)
Bagi yang belum (seperti saya), 'yukk kita sama-sama belajar ngga panikan waktu mengisi soal ujian. Jadi, kemungkinan salah ngitung dan salah isi gara-gara ngga bisa berpikir jernih bisa diminimalisir... =)
Saya menceritakan pengalaman UTS saya kepada kakak-kakak saya yang sudah lulus kuliah. Kami terlibat percakapan singkat yang cukup seru.
Sambil sedikit menyombongkan diri karena sudah tidak menghadapi UTS lagi, pada akhir pembicaraan, mereka mengatakan sesuatu yang sempat membuat saya tercengang.
"Hahaha, UTS? Apaan tuh? Udah lama ngga denger... Kalo ga salah kepanjangannya : Udaaah, TENANG Sajaaah!..."
Saya pun hanya bisa tertawa...
(agak miris karena bingung... Kok si "TENANG" nge-trend amat ya?)
Yaaa, mungkin memang benar ya, demi hasil yang baik dan (lagi-lagi) untuk menghindari kesalahan hitung dan kesalahan jawab karena panik, belajar mengisi soal ujian dengan tenang perlu banget untuk dilakukan...!
Goodbye Comfort Zone!
Posted by Thatung at 11:30 PM Labels: Psikometri, Statistik Saturday, March 14, 2009Let me introduce myself... Dikenal sebagai mahasiswi "tukang" belajar ditambah dengan titel sebagai "asistennya Mas Japro" membuat saya tidak bisa lari (lagi) dari dunia statistik dan kawan-kawannya...
Kenapa saya menggunakan kata "lagi"? Yaaa... Karena saia memang pernah mencoba berkali-kali lari dari yang namanya Statistik dan pengantarnya yang sudah saya dapatkan dari masih cilik dulu. Dari mana? Yaa dari pelajaran universal bernama MATEMATIKA.
Saya masih inget banget betapa susahnya saya menghafalkan perkalian 1-9, hingga membuat anak tangga bertuliskan cm, dm, dan kawan-kawannya... Jadi, tidak mengherankan nampaknya kalo waktu SD duluuuuu, nilai matematika saya ya kisarannya "do-re-mi-fa-sol" (bahkan "la-si" seringkali hanya ada di dalam mimpi... *huuks*).
Masuk SMP, saya membiarkan diri saya tetap menghindari matematika. Nilai yang terpampang di NEM hasil UAN SMP saya mungkin bisa menjelaskan semuanya. Di saat hampir seluruh nilai biru dan indah membentuk angka 8, tiba-tiba ada sebuah angka 5 yang merusak keindahannya. (Yup, Mr. Mathematic did that!).
Tidak berhenti sampai di situ, waktu masuk SMA, saya (lagi-lagi) tidak mau bersahabat dengan Matematika dan kawan-kawannya di mata pelajaran IPA. Dengan melakukan rasionalisasi di sana-sini, akhirnya saya bisa meyakinkan diri bahwa saya jatuh cinta setengah mati pada IPS, dan tidak sama sekali pada IPA. Akhirnya, saya menempuh jurusan IPS yang minim hitung-hitungan itu.
Yaaah, itulah kurang lebih perjalanan saya di dalam comfort zone yang bebas dari matematika dan kawan-kawannya. Panjang yaa? Kurang lebih 17 tahun hidup saya telah dihabiskan dengan memusuhi matematika. Sampai akhirnyaaaaaa............
Dengan banyak pertimbangan (kalo diceritain satu-satu, ngga akan kelar 1 blog... hehe :D), saya memutuskan untuk masuk jurusan Psikologi saat kuliah... Dari sebelum masuk kuliah, saya sudah mendengar dari guru saya bahwa di Psikologi, saya akan berteman dengan kerabat dekatnya matematika, yaitu Statistik. Sempat terserang malas luar biasa, tapiii saia pikir ya sudahlah, toh saya ngga akan hanya mempelajari Statistik sampai lulus selama 8 semester.
Di semester 1 bertemu dengan Statistik 1, perkenalan yang luar biasa dan penuh warna! Saya mulai menyadari bahwa saya punya curiousity di bidang yang satu ini. Terbukalah mata saya bahwa Statistik ataupun matematika ternyata tidak hanya berisi pelajaran menghitung, tapi juga bisa mengajari hal-hal yang lebih dalam. Ketika saya memahami konsep di balik sebuah rumus, WAAAW, luar biasa bangganya saia dengan diri saya sendiri...!
Di Statistik 2 dan Statistik Non-Parametrik yang sudah lebih aplikatif pun saya merasakan sensasi yang sama. Intinya adalah saya tidak mau hanya belajar menghitung (secara saya udah kenyang belajar menghitung dari TK duluuu... sama donk?? hihi...).
Selanjutnya, saya pun berkenalan dengan Psikometri dan Konstruksi Tes yang mengantarkan saya perlahan-lahan kepengen keluar dari comfort zone. Pikiran saya saat itu adalah, kalau saya tidak mau mengajak diri saya sendiri untuk keluar dari comfort zone yang bebas dari matematika, statistik, dan kawan-kawannya, maka saya pasti akan terseok-seok di "medan peperangan" psikometri dan kontes.
Jadiii, saya ajak diri saya perlahan-lahan pergi dari comfort zone itu... Alhasil, saya jadi lebih ikhlas dan rela kerja keras, rajin baca buku tentang penyusunan alat tes... And Then... Lulus Psikometri, Lulus Kontes... Legaaaa!!
-The End-
(Beluuum donk!) :D
Suatu hari, saat kesibukan kontes sudah menghilang dan saya mulai berniat kembali ke dalam comfort zone, datanglah tawaran untuk menjadi asisten Mas Japro...
Sempet speechless... (kok sepertinya memang ngga bisa kembali ke comfort zone itu yaaah?)
Then, I think fast! Really fast.... Dan menerima tawaran itu...
Hari itu juga, saya memutuskan untuk meninggalkan comfort zone itu (semoga untuk seterusnyaaaa...)!
Dipikir-pikir, ngga ada ruginya kok meninggalkan comfort zone untuk jadi orang yang lebih berkembang, lebih berani, dan tidak berusaha membohongi diri sendiri... :D
(Ada yang setujuuuuu?? XD)
Finally, saya keluar dari comfort zone untuk membantu teman-teman yang membutuhkan bantuan juga (mungkin ada yang mau dibantu untuk keluar dari comfort zone-nya masing-masing... hehe...)
Okey, WELCOME everyone...!
Selamat berjuang dan bersenang-senang di dunia Statistik dan Penyusunan Alat Tes Psikologi...!
-Retha Arjadi-
Statistik
Istilah yang sudah sering sekali saya dengar sejak saya duduk di bangku SMP, SMA bahkan sampai saya duduk di bangku perkuliahan di fakultas psikologi. Mata kuliah ini memang sering kali jadi momok bagi teman-teman yang membenci angka,rumus dan antek-anteknya.
Namun untuk saya pribadi, saya sangat bersorak ketika saya tahu bahwa ada pelajaran yang bersifat hitungan dan eksakta di psikologi. Tadinya saya berpikir, sampai saya lulus saya akan berkutat dengan buku tebal penuh dengan bacaan (dengan bahasa inggris pula!), analisa kasus yang mengandalkan teori dan persepsi masing-masing individu, dll yang saya sendiri merasa semuanya mengawang-awang. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah.
Nah,ketika saya tahu bahwa ada pelajaran statistik, saya merasa akan bisa sedikit menyalurkan kesukaan dan kemampuan saya dalam bidang angka-angka khususnya matematika
Diawal kuliah statistik, saya mulai merasa ada yang berbeda antara statistik yang ada dalam pikiran saya dengan apa yang diberikan. saya baru menyadarii, oouw, sepertinya tidak akan semudah itu.
Ada yg disebut dengan konsep-konsep statistik
Arghhh....rasanya menyebalkan sekali mendengarkannya. Mengapa statistik ini bukan hanya berkutat dengan data-data, rumus dan menggambar grafik seperti yang saya pikirkan?
Mengapa ada jenis-jenis skala, jenis-jenis test untuk pengujian hipotesis beserta konsep penggunaannya, atau istilah korelasi, regresi, effect size dan istilah menyebalkan lainnya yang sebelumnya tidak pernah saya dengar?
Mata kuliah ini sepertinya akan menjadi momok untuk saya juga. Itulah sedikit gambaran perasaan saya ketika pertama kali berhubungan dengan mata kuliah statistik di Fakultas Psikologi.
Seiring jalannya waktu, saya mulai berusaha untuk menikmati saja setiap materi dalam statistik ini.
Dan tanpa saya sangka-sangka, konsep-konsep dalam statistik itu justru terasa semakin menarik karena saya bukan belajar untuk mengaplikasikan saja, tapi saya tahu mengapa dan kapan saya harus mengaplikasikan nya pada data-data yang ada.
Ketika memahami setiap konsep yang ada, lalu tahu kapan harus digunakan, sampai akhirnya saya bisa menganalisis data yang ada, ada kepuasan tersendiri yang saya rasakan.
Sekarang saya mengenal statistik sebagai suatu keseluruhan bukan hanya sebagai “proses menghitung” nya saja..
Mungkin statistik yang sudah saya pelajari masih sebagian kecil dari statistik yang sebenarnya..
Namun saya yakin, statistik akan tetap menyenangkan jika saya tetap mau menikmatinya setiap prosesnya seperti yang saya lakukan sekarang..
Mari Berhitung!
Posted by mbakDos at 11:38 PM Labels: Psikometri, PWD 203, PWD 222, Statistik Saturday, March 7, 2009Masih belum percaya juga bahwa kuliah di Psikologi ternyata ada hitung-hitungan?
Yaahh… kadang-kadang kenyataan memang tidak menyenangkan, kok… Tapi daripada disesali, dan tetap tidak akan menghapuskan hitung-hitungan itu dari matakuliah yang wajib diambil, mungkin ada baiknya jika mulai menikmatinya saja.
Lagipula, kata siapa berhitung itu selalu menyebalkan?! :D